Selamatkan Ibu Prita

Wednesday, June 03, 2009

Kutipan Surat Ibu Prita yang mengantarkannya ke penjara (Sumber : Kompas, 03 Juni 2009 , artikel)

RS OMNI DAPATKAN PASIEN DARI HASIL LAB FIKTIF

Prita Mulyasari - suaraPembaca

Jangan sampai kejadian saya ini menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandar International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah trombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr I (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.

Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.


Salam,
Prita Mulyasari
Alam Sutera


Beberapa hari memang baca berita mengenai Bu Prita yang ditahan karena dituduh mencemarkan nama baik Rumah Sakit OMNI, diriku penasaran sama isi emailnya. Trus buka Kompas seperti biasa, akhirnya ada juga beritanya. Sudah dibaca kawan? Diriku posting ini sambil lihat beritanya di Metro TV. Sangat sangat aneh, ndak masup akal, konyol, karena surat keluhan ini Bu Prita di penjara.

Wajar jika pasien menanyakan hasil diagnosis, wajar seorang kawan memberi peringatan agar kawan lain berhati hati, bahkan di email tersebut, Bu Prita masih memegang etika dengan hanya menyebut nama inisial saja.

Susahnya ketika hukum diperjualbelikan. Semoga masih ada keadilan Buat Ibu Prita.

You Might Also Like

91 comments

  1. Makasih bong buat infonya, pertama saya baca berita ini di FB. hehe

    ReplyDelete
  2. pertamax dan sudah saya baca.... :h:


    sudah join causenya di facebook

    ReplyDelete
  3. @ taktiku :
    curiga kamu ga baca dulu.... ga sopan :e:

    ReplyDelete
  4. mbaaaaaaaaak.... aku komeeeeeeeeen......:d;

    hihihihihi... saya turut memberikan dukungan... semoga ibu prita mendapatkan hasil yang terbaik,,,,,

    ReplyDelete
  5. Waah kasian banget ibu pritanya,,harus dituntut keras tuuh!! biar enggak terulang lagi kejadian tersebut..
    kita tau sendiri banyak kejadian malpraktek dinegara kita,,entah kita harus percaya sama siapa?? kalo ternyata RS yang mahalpun ada salahnya

    ReplyDelete
  6. ibu prita hanya mempublikasikannya seharusnya RS trsbut jngn main tntt ajah lht kslahannya :e:

    ReplyDelete
  7. dukung Ibu Prita!!

    ini sudah melanggar kebebasan berpendapat namanya..

    kasihan anak²nya :i:

    ReplyDelete
  8. wah aku udh pernah baca email ini...
    ternyata yg buatnya di penjara ya,ya ampun, aneh bgt sih kok bisa...ini aneh bin ajaib!!

    ReplyDelete
  9. Ayo galang kekuatan untuk menyelamatkan beliau

    ReplyDelete
  10. Kok..langsung dipenjara sih?? aneh aja..seharusnya mereka menangani komplain pengunjung dong..RS yang aneh...

    ReplyDelete
  11. wuiiihh.... sekarang emang banyak ya RS yang asal2an gimana nggak dokternya aja supaya bisa jadi dokter makenya duit, bukan make otak makanya yang jadi juga asal2an ngobatinnya...

    yang penting dapet duit... kalo pasien modar "semua kehendak yang kuasa" gitu ngomongnya...

    ReplyDelete
  12. emang bikin geram klo cuman gara2 kirim imel lagsung ditangkep. mana yang nangkep bukan polisi lagi tapi petugas kejaksaan, aneh ga tuh??

    ckckckc... berhati2lah kau nak
    *siap2 maw ke PN Tangerang dukung ibu Prita*

    ReplyDelete
  13. oh, baru tahu begitulah kasus ibu prita tersebut.
    begitulah, yang jadi korban malah dijadikan tersangka,

    ih... belum kenalan. salam kenal ya ^ ^

    ReplyDelete
  14. kasihan ibu prita... sakit aja dah mnderita itu, mash harus di penjara, alasanny ga jelas gt lagih... :A:

    ReplyDelete
  15. lha kok aneh ya, seharusnya si rumah sakit tahan ama kritikan lho, kan bagus buat perbaikan mereka ...

    ReplyDelete
  16. Oh gitu ta?? Aku pertama liat di detik ama di manaaa gitu.. Tak pikir cuman berita kacangan seperti biasanya, eh ternyata mengenaskan gini :a:

    Semoga Ibu Prita di berikan kemudahan dan ketabahan dalam perjalanan hidupnya, baik dunia wal akhirat.

    Mesakke tenan :a:

    nangis sik ah......

    ReplyDelete
  17. @semua: setujuuuuuuuuuuu...bener bener kasus yang aneh dan penuh keganjilan, mulai dari pasal yg dikenakan, trus langsung di penjara penahanan, dan lain lain :e:

    ReplyDelete
  18. duh kalau di sini udah masuk ke pengadilan tinggi tuh kasusnya piet

    ReplyDelete
  19. Inilah wajah negeri kita ...law by order bukan law and order.
    Saya sungguh sangat prihatin sekali dengan apa yang dialami oleh ibu Prita.
    Thanks 4 nice sharing ini

    ReplyDelete
  20. Wah,,, baru tau nie berita ttg Bu Prita...
    kasian juga kalo gitu kejadiannya!

    ReplyDelete
  21. Wah..aku gak bakal berobat ke Rs. Omni dah..serem ui..jangan2 jadi objek penelitian obat lagi...hiii..serem..

    ReplyDelete
  22. Ibu Prita Kartini...
    (nek mbales commentku ojo nganggo kata ganti "semua" yo...)
    Sing cetho.
    Kan comment masuk beda2, mosok balesane nganggo senjata otomatis...
    dddddrrrrrrrrrrrllllllll... setuju semua...
    whekkkkkk

    ReplyDelete
  23. Melok ndukung kebebasan Bu Prita...

    ReplyDelete
  24. Saya turut prihatin dgn masalah ini..semoga ada penyelesaiannya dgn penuh keadilan ..

    ReplyDelete
  25. capeee deh...saya juga udah baca e-mailnya di FB, aneh bin ajaib memang, di kasi komplain kok malah nuntut seharusnya pihak RS makin memperbaiki kinerja-nya bukan malah menyalahkan yang ngritik.

    Support Bu Prita selalu, paling tidak syukurlah sore tadi bu Prita statusnya jadi tahanan kota, jadi masih bisa ketemu anak-anaknya.

    ReplyDelete
  26. :d: yg salah pasti dapat nilai jelek
    yg benar dapat nilai bagus..
    bu prita semangat kamu bisa ..

    ke dokter males mening ke ponari

    ReplyDelete
  27. @topik:wkekekekkee cukup minum aer
    @mama hilda: orang waras tentu masih bisa mbedain mana yg bener mana yg salah, sumpah ma, kasus yg aneh dweh
    @dinoe: semua berharap gt
    @bang ir: dari kompas bang
    @pak marsud:kwkkwkwkw halah, wes pokoke kan intine podo pak..diriku td capek ngetik
    @fujianto:omnivora :f:
    @deta:yoi det.
    @kabasaran: law disorder
    @jeng sri:harusnya jeng

    ReplyDelete
  28. Aku sbg rakyat biasa yg jg bs sakit dan tentunya 'tidak kebal hukum', SANGAT MENGUTUK KERAS TINDAKAN CEROBOH DOKTER-DOKTER DI RS ITU.

    Sungguh biadab mereka, di kasih kritikan malah menuntut dng pasal yg gak jelas. Dasar B***NGAN..!!

    Turut prihatin atas apa yg menimpa Ibu Prita, ayo kawan KITA DUKUNG KEBEBASAN IBU PRITA, kalo perlu kita datangi PN Tangerang besok, rame-rame.

    Kalo sampai Ibu Prita KALAH, kita cekik aja rame-rame para jaksa dan juga dokter-dokter yg menuntutnya.

    Semoga Alloh Swt selalu melindungi kaum-Nya yg lemah, amin...

    ReplyDelete
  29. Pliss Sob... jangan ada yg bilang 'kasihan Ibu Prita' itu sungguh kata yg gak PANTAS.
    Gantilah kata itu menjadi PRIHATIN dan kalo bisa segera DUKUNG KEBEBASANNYA..!!

    ReplyDelete
  30. emang brengsek tuh RS.Bukannya melayani pasien dengan ramah&benar....dah jelas2 salah&lalai dlm diagnosa, eh malah yang curhat dipenjara!!!
    dasar RS kemaruk!Pasien dianggap obyek yg bisa di manipulasi&diperas seenak udelnya!KASUS YG ANEHHH..

    ReplyDelete
  31. gemes karo si omni iku cah endi to kene tak blender raine men gepeng sisan

    ReplyDelete
  32. fast reading ajah..
    dah pernah baca
    :f:
    :f:
    :f:

    ReplyDelete
  33. Saya juga udah baca dipostingannya MasDan dan nonton beritanya, menyedihkan sekali. Uang masih berbicara disini, apa salah Bu Prita?

    ReplyDelete
  34. Hmmm... Rumasakit bertaraf Internasional...
    saatnya setiap pasien waspada pd mereka...
    jngn mau dikibuli.... terima kasih IBU PRITA,

    ReplyDelete
  35. Wuih lengkap banget nih mbak bong kronologisnya...
    Setuju mbak, Semoga hukum di indonesia bisa lebih tegak.

    ReplyDelete
  36. Amiin... Semoga Ibu Prita dapat lindungan dan pertolongan dari Nya... :)

    ReplyDelete
  37. kejjam, seperti inikah wajah rumah2 sakit negeri kita, yang seharusnya mengayomi bukan menambah pundi-pundi beban di leher mereka.
    terakhir aku baca kompas, ibu mega dah menjenguk ibu prita, semoga mendapat hak hukumnya...

    jadikan pelajaran buat kedepannya, tak melulu label internasional itu memberikan yang terbaik, boleh saja puskesmas pedesaan, tapi soal pelayanan, dari hati banget..

    Yup !

    ReplyDelete
  38. semoga ada lembaga pengawas rumah sakit, dokter dan labnya, apalagi kalo yang sakit anak kecil, orangtuanya aja nggak bisa ikut ngrasain sakit si anak... cuman puyeng....

    ReplyDelete
  39. PERADILAN INDONESIA: PUTUSAN SESAT HAKIM BEJAT

    Putusan PN. Jkt. Pst No.Put.G/2000/PN.Jkt.Pst membatalkan Klausula Baku yang digunakan Pelaku
    Usaha. Putusan ini telah dijadikan yurisprudensi.
    Sebaliknya, putusan PN Surakarta No.13/Pdt.G/2006/PN.Ska justru menggunakan Klausula Baku untuk menolak gugatan. Padahal di samping tidak memiliki Seritifikat Jaminan Fidusia, Pelaku
    Usaha/Tergugat (PT. Tunas Financindo Sarana) terindikasi melakukan suap Rp.5,4 jt. (menggunakan uang klaim asuransi milik konsumen) di Polda Jateng
    Ajaib. Di zaman terbuka ini masih ada saja hakim yang berlagak 'bodoh', lalu seenaknya membodohi dan menyesatkan masyarakat,sambil berlindung di bawah 'dokumen dan rahasia negara'.
    Maka benarlah statemen "Hukum negara Indonesia berdiri diatas pondasi suap" (KAI) dan "Ratusan
    rekening liar terbanyak dimiliki oknum-oknum MA" (KPK). Ini adalah bukti nyata moral sebagian hakim negara ini sudah terlampau sesat dan bejat.
    Keadaan ini tentu tidak boleh dibiarkan saja. Masyarakat konsumen Indonesia yang sangat dirugikan mestinya mengajukan "Perlawanan Pihak Ketiga" untuk menelanjangi kebusukan peradilan ini.
    Sudah tibakah saatnya??

    David
    HP. (0274)9345675

    ReplyDelete
  40. turut mendoakan ibu prita mbak :)
    semoga kebenaran ini segera terungkap ^_^

    lam knal mbak :)

    ReplyDelete
  41. Inilah bukti ketamakan dan keserakahan orang berduit yang bisa melakukan segalanya termasuk menjual belikan nyawa manusia dan menjebloskan orang tidak bersalah ke penjara.
    Semoga mendapat ganjaran yang setimpal...

    ReplyDelete
  42. DUIT bernyanyi ternyata masih juga merdu terdengar di negeri ini.....,

    Kabar terakhir, status tahanan diubah menjadi tahanan kota.

    ReplyDelete
  43. @prof: :e: sangat setuju...
    @yudi: semoga semoga semoga, padahal duit ga dibawa mati juga heran
    @cupu:yup, setidaknya kita tidak menjadi org yg berpikiran seperti penjual hukum itu
    @david:class action?
    @suryaden:yg lemah yg tertindas, manut ae :a:
    @awan:iyah perkembangannya ky gtu, heran deh...itu masalah perdata bukan pidana, lagian pasalnya pasal karet
    @hangga:amiin

    ReplyDelete
  44. susah bong kalo apa2 udah diatur pake duit.. :b:

    ReplyDelete
  45. etika dan moral dokter sekarang berbasiskan bisnis minded....

    ReplyDelete
  46. bentar mbak mbong tak mbaca dulu kutipan suratnya :c:

    ReplyDelete
  47. Untung yg dcuntik bkn mak bong,klo mak bong yg dcuntik btelur dewhh., :D . Salam Meong

    ReplyDelete
  48. ini udah bener2 keterlaluan!!! gila Omni tuh!! :e:

    ReplyDelete
  49. Aku kemarin lihat tayangan debat di Metro tentang kasus Ibu Prita antara pengacara RS Omni dan Ketua YLBH
    dalam surat yang aku baca di detik.com
    surat ibu Prita sama sekali tidak menyebutkan dengan jelas nama dokternya
    hanya Inisialnya saja..
    Tapi pengacara RS Omni malahan berkali-kali menyebut nama dokter itu dengan jelas..
    lho?? dia juga harus dipenjarakan dong!

    Saya cuma pengin tanya aja lho sama pengacara, polisi, hakim atau siapa saja
    kalo saudara perempuan, istri, ibu mereka diperlakukan seperti itu, apakah mereka bakalan terima?

    ReplyDelete
  50. bukti kalau orang kejaksaan, pengacara dan pihak omni itu sangat pintar ya ... sampai2 isi UU ITE yg hanya berlaku untuk tuntutan pribadi itu diartikan berbeda ... ck ck ck ...

    ReplyDelete
  51. suatu dukungan adalah sebuah wujud kepedulian kita terhadap sesama, kita lihat sendiri pemerintah tak pernah bisa memberikan kepeduliannya kepada rakyatnya. maka dari itu mari kita dukung sesama(di baca ibu prita) karena pemerintah telah buta dan mati rasa.

    negara demokrasi adalah negara yang bebas untuk mengeluarkan pendapatnya. apakah para blogger juga akan dipenjara dengan pendapat mereka di blognya?

    ReplyDelete
  52. Urusan nama baik tidak lebih penting dari pelayanan sisakit. Jika dokter ingat sumpahnya utk melayani pasien dengan sebaik2nya maka jaksa penuntut akan berpikir berjuta kali akan nama baik ini. Pasien adalah titipan Alloh buat dokter dan hakim ada hukum terberat yg banyak terlupakan. Jika uang dalam pikiran mereka maka Tuhan mereka telah berubah.

    ReplyDelete
  53. BOIKOT OMNI ! !BOIKOT OMNI ! !BOIKOT OMNI ! !BOIKOT OMNI ! !BOIKOT OMNI ! !
    RUMAHSAKIT BEJAT DAN DOKTER2 YG BIADAB ! SEUMUR2, GW DAN KLUWRGA GW G BAKAL PREKSA DI RS ITU . Cuih

    ReplyDelete
  54. wah hati2 bong ditangkep juga...hukum emang edan..

    ReplyDelete
  55. and justice for all...freedom to Ibu Prita...

    ReplyDelete
  56. Dukung bu Prita yang sekarang sedang sidang, semoga keadilan berpihak pada beliau.

    ReplyDelete
  57. Semoga penegak hukum kita otaknya waras semua....
    Dan bisa melihat kebenarannya....
    Lha wong wes jatuh koq dibregi penjara...

    ReplyDelete
  58. @xitalho: tatapne tembok ae ben waras
    @seno: iya mas lagi lihat nih
    @hari: setuju mas, kita punya sarana ampuh utk men "demo" ga lagi turun ke jalan, tapi penuhi seluruh headline dg dukungan ini
    @aditya: hoOh
    @lookj:sangat edan
    @pututik: 100% agree. Nama baik sebelah mana coba, toh itu cuman sharing pengalaman ky kita ini. heran deh
    @dafhy: protesssssss kl sampe itu terjadi
    @nomercy: lah wong depkominfo aja udah bilang itu penyalahgunaan UU ITE. aneh deh
    @itik bali: yepp... ga ngaca diri sendiri yah
    @zaemon::f: iyah
    @gondes: :a: iyah
    @ujan:indikasi itu kelihatan bgt

    ReplyDelete
  59. pasang headline blog dengan tulisan ini...

    ntar kalo blogger ditangkap ama kejaksaan bikin kopdaran aja di sana.... :f:

    puyeng2 ntar orang kejaksaan... wkakakakakak

    aku pesen, selnya bareng ebong, *pengen liat punya ekor ndak ya... :c: pissssssssssssssssss mbak ebong, heheheheheh

    *moga harapan ini gak terkabul :a:

    ReplyDelete
  60. nasibnya dadi wong cilik bong.... wong gede bisa seenak udhele dhewe...

    ReplyDelete
  61. kesian ya,... tp si mbak prita itu udh bebas kan?! syukur lah...

    ReplyDelete
  62. Buat bu Prita :
    Sabar ya bu Prita...
    Kita berdoa buat bu Prita biar smua bisa selesei dengan baik, dan mendapatkan keadilan yang sesungguhnya... Biar bu prita bisa kumpul lagi dengan kluarga dan menjalani hidup dengan tenang dan damai... :h:

    Buat RS Omni :
    Hei lo tu ya... pake otak gak sih kalo bertindak... tau gak sih lo klakuan lo itu ya bukan bikin nama baik lo tambah baek yang ada juga tambah buruk tauuuuuu.... sama tu ma pengacaranya, sama jaksanya... dikasih duit brapa sih lo ampe gak pake otak gitu...
    Inget lo diakhirat... gak usah diakhirat dech pas di dunia juga gw yakin lo bakal ancur, Tuhan tu adil tau dan Dia gak kan diam aja ngebiarain ada salah satu hambanya yang dianiaya...
    Dah lo Omni ma pengacaranya ma jaksanya praktek aja di neraka, biar sama bejatnya... :n:

    ReplyDelete
  63. aku kesian bgt ama anak2nya,, apalagi masih ada yg butuh asi..

    hak berbicara mulai dibatesin lagi neh :n:

    betewe,, salam kenal yah,, aku link yah..

    oh ya,, mo minta ijin liat2 emoticon ma templatenya juga,,trus kalo aku comot juga ga apa2 kan yah,, hehehehe...:h:

    ReplyDelete
  64. saya dukung ibu ku : Ibu Prita Mulyasari. Bebaskan beliau wahai Indonesiaku !!!!

    "BEBASKAN IBU PRITA MULYASARI !!!" Lebih Cepat Lebih Baik !!

    Saya jg dah kampanyekan di blog bong... hehehehee....

    ReplyDelete
  65. Barusan liat di tv, saat ditanya knapa gak mau memberikan hasil lab awal, spt yg Ibu Prita minta? Apa jawab Dir RS nya, katanya hasil lab itu BELUM VALID.

    Lha kalo blm valid knapa uda di kasih suntikan? Knapa udah di haruskan mengkonsumsi obat dosis tinggi.

    Kalo bertindak itu mbok ya pake pikiran.
    Pikir dulu sblm bertindak..!!

    ReplyDelete
  66. kalo yang koruptor aman2 saja ya..?? :-)

    Anak Bangsa

    ReplyDelete
  67. sabar...sabar...mas mut...hehehhehe

    ReplyDelete
  68. merdeka.....................
    wah komentarnya kok buanyak banget sich!.....
    hebuat...:j:

    ReplyDelete
  69. Kasus bu Prita harusnya membuka mata hati para dokter dan tim medis. bahwa kesehatan pasien adalah tanggung jawab mereka.

    hanya karena curhatnya menyebabkan bu Prita di penjara dan di denda. harusnya para dokter itu juga di dakwa karena telah melanggar UU kedokteran. memberikan suntikan dan obat-obatan secara berterusan bisa menyebabkan seseorang itu over dosis

    ReplyDelete
  70. Bu Guru Prita, Sakno Sakno ...

    ReplyDelete
  71. Pertama tahu dr blognya tika...trus di fb...peristiwa ini ternyata sdh lama juga yak.......syukur Ibu Prita dah bebas....

    ReplyDelete
  72. semoga bebas dari semua dakwaan

    ReplyDelete
  73. :k: :k: ...
    Duuuh si bintang air udah nongol neh...
    selamat datang ya mbak dwina....

    ReplyDelete
  74. turut berduka atas matinya kebebasan berpendapat

    http://wirautama.net/email-curhat-ibu-prita-mulyasari/

    ReplyDelete
  75. di setiap postinganmu, seringkali ada manusia dengan jemari perkasa. Untuk postingan kali ini, ewod diberikan kepada David Pangemanan!

    wekekek.. selamat!

    ReplyDelete
  76. Aku udah lama banget dapet fwd e-mailnya ibu Prita, tapi karena waktu itu aku pikir it's only customer's curhat atas layanan yang tidak memuaskan yang dia alami jadi hanya aku jadikan referensi aja dan ngga aku fwd ke temen-temenku yang lain.

    Aku baru ngeh kalo ternyata isi e-mail itu berbuntut panjang sampe ibu Prita masuk penjara segala.

    Komentarku hanya: WORST! Tindakan/langkah pihak RS dengan memenjarakan ibu Prita membuat image RS tersebut semakin buruk. Padahal kalau dilakukan klarifikasi sampai ke admit that they did a mistake, mungkin keadaannya ngga akan seburuk ini. Masa iya sih sampe harus ditekan dari berbagai penjuru angin (kalah deh jaka sembung 212!) ... dari blog, facebook, media cetak, media elektronik ... ckckck

    ReplyDelete
  77. sebenernya ini masalah lama yang terkuak lagi, gara2 ibu prita nya di penjara sejak tgl 13 mei kemarin. tapi untungnya udah dibebaskan.

    ayoo dukung ibu prita...

    ReplyDelete
  78. MATINYA KEBEBASAN BERPENDAPAT

    Biarkanlah ada tawa, kegirangan, berbagi duka, tangis, kecemasan dan kesenangan... sebab dari titik-titik kecil embun pagi, hati manusia menghirup udara dan menemukan jati dirinya...

    itulah kata-kata indah buat RS OMNI Internasional Alam Sutera sebelum menjerat Prita dengan pasal 310 KUHP tentang pencemaran nama baik.

    .......................................................................................................

    Bila kita berkaca lagi kebelakang, sebenarnya pasal 310 KUHP adalah pasal warisan kolonial Belanda. Dengan membungkam seluruh seguruh teriakan, sang rezim penguasa menghajar kalangan yang menyatakan pendapat. Dengan kejam penguasa kolonial merampok kebebasan. tuduhan sengaja menyerang kehormatan, nama baik, kredibilitas menjadi ancaman, sehingga menimbulkan ketakutan kebebasan berpendapat.

    Menjaga nama baik ,reputasi, integritas merupakan suatu keharusan, tapi alangkah lebih bijaksana bila pihak-pihak yang merasa terganggu lebih memperhatikan hak-hak orang lain dalam menyatakan pendapat.

    Dalam kasus Prita Mulyasari, Rumah sakit Omni Internasional berperan sebagai pelayan kepentingan umum. Ketika pasien datang mengeluhjan pelayanan buruk pihak rumah sakit, tidak selayaknya segala kritikan yang ada dibungkam dan dibawah keranah hukum.


    Kasus Prita Mulyasari adalah presiden buruk dalam pembunuhan kebebasan menyatakan pendapat.

    ReplyDelete
  79. @blog watcher:thanks banget mas, 100% setuju dengan pendapat mas

    ReplyDelete
  80. kasus ibu prita memang memprihatinkan.ini bisa menjadi tolak ukur bahwa rumah sakit dengan label internasional belum tentu memberikan layanan terbaik kepada pasien. maraknya kasus salah diagnosa oleh dokter akhir-akhir ini menimbulkan pertanyaan, sejauh mana kualitas dan kredibilitas yang mereka miliki sehingga dapat dipertanggungjawabkanReview Product

    ReplyDelete
  81. You will find that there are uk louboutin shoes many gemstones and settings to christian louboutin cheap uk choice from. Almost as many as the engagement bible verses there are. You will want to consider doing christian louboutin shoes uk sale all you can to make a unique piece of jewelry by trying to come up with your own ideas. You will be able to make a lot of great christian louboutin shoes sale options for yourself when you look at the various gemstones and settings.You will find that most jewelers will not just have rings and necklaces already for you to purchase, but they have the loose gemstones ready for you so that they can place the gemstone louboutin shoes sale in any setting that you would like. Keep in mind that this type of custom design will make you feel more control in your choice to purchase, but it will also allow you to show some creativity in the design. When it comes to getting a custom design, you will find that your options are not limited, but you could end up being overwhelmed with choices. You will want to make sure christian louboutin sale shoes that you think about the design that you are looking for and possibly look outside of the box. You will want to look deeper into what exactly you are looking for.A lot of people like to show off the jewelry, but you will want to keep in mind that there is that cut out image of jewelry, but you will want to call some of the local chains and ask them if they are willing to work with you to make some uk christian louboutin custom made jewelry. This is something that you will want to consider as a creative outlet. You will want to consider doing everything that you have dreamed about with the gemstones to create a magical piece of jewelry.

    ReplyDelete